Sigap Berinovasi, Trik Ibu Maksimalkan Bisnis Online-nya

Digital marketing, hosting murah

Akhir-akhir ini, daerahku sering sekali diguyur hujan deras pada pagi hari. Sungguh nikmat mana yang kau dustakan karena tidur kita bisa lebih nyenyak.

Untuk satu atau dua hari rasanya tidak masalah. Tapi kalau setiap hujan menyambut kita memilih meneruskan mimpi? Wah, aktivitas harian bisa-bisa jadi berantakan.

Segera aku singkapkan selimut. Mungkin karena tidur cukup semalam, badan rasanya segar. Setelah ritual pagi, aku pun bergegas ke pasar. Jika ditunda-tunda, takutnya si kecil keburu bangun. Bisa repot urusan bila hujan-hujan begini dia ikut.

Untuk memenuhi kebutuhan, aku mencukupkannya dengan berbelanja di pasar pagi dekat rumah.

Pulang dengan rasa kecewa karena ternyata banyak pedagang yang tidak menggelar lapaknya kala hujan deras melanda.

Nggak cukup sampai di situ, mbak sayur keliling yang aku harapkan ternyata juga tidak berjualan.

Kasus seperti ini sebenarnya tidak sekali dua kali terjadi. Sarana yang belum memadai memaksa para pedagang pasar pagi harus berpayung langit setiap kali berjualan. Ruwet urusan bila hujan menerjang. Sebagai solusi, mereka mengandalkan payung lebar untuk melindungi diri dan dagangan.

Repot harus bongkar pasang payung, pembeli yang tak seramai ketika cuaca cerah ditambah durasi jualan di pasar pagi yang memang terbilang singkat, bisa jadi menjadi alasan mereka memilih tidak berjualan.

Bicara soal sayuran, adalah salah satu komoditi yang bisa dibilang tidak terkena efek pandemi. Permintaan akan sayuran segar terus saja muncul karena itu merupakan bahan pokok.

Senada dengan fakta ini, nggak sedikit pedagang sayur yang menggunakan metode baru untuk memaksimalkan penjualannya. Yap, kini berbelanja sayur bisa kita lakukan lewat chat. Bagi pebisnis sayur dalam skala besar, mereka bahkan menyediakan aplikasi.

Pasar Wates, pasar tradisional, tips jualan online
Suasana pasar pagi di daerahku, masih menggunakan cara tradisional dalam bertransaksi. Sumber gambar dok.pribadi

Sebagai pembeli, aku terkadang membayangkan seandainya para penjual sayur di sekitar tempat tinggalku memikirkan inovasi tersebut. Melayani pembeli dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

Penjual tidak kehilangan pemasukan. Kebutuhan pembeli pun terpenuhi, terutama untuk situasi di luar kendali seperti hujan atau pandemi.

***

Banyak diantara perempuan menikah yang pada akhirnya memilih resign dari pekerjaan. Salah satu alasanya, ingin fokus mengurus keluarga.

Tapi tak sedikit dari mereka yang akhirnya bingung mau ngapain.

Di sekitarku, buanyak sekali ibu-ibu yang nyambi berjualan, berbekal smartphone kesayangan. Senada bukan dengan masuknya era revolusi industri 4.0 yang erat kaitannya dengan internet.

Berjualan secara online memang memiliki banyak kelebihan dibanding cara konvensional. Terlebih akibat era pandemi seperti sekarang yang memaksa kita meminimalkan interaksi tatap muka. Daring adalah jurus pamungkas.

Namun tak sedikit dari kalangan ibu-ibu yang masih berjualan secara hardselling. Dipandang mengganggu menjadikan calon pembeli justru menjauh dengan mematikan notifikasi.

Rugi kan?

Masih membicarakan kalangan ibu-ibu yang tentu membutuhkan trik tersendiri mengingat tanggung jawab mereka untuk mengurus keluarga.

Bertanya pada teman-teman ibu rumah tangga yang merangkap sekaligus sebagai pelaku online shop, ini dia kendala yang kerap dihadapi.

Kendala yang Dihadapi Ibu-ibu Pemilik Online Shop


Tips jualan online, digital marketing
Mencoba menenangkan anakku yang tiba-tiba menyusul ketika aku sedang menggelar lapak di acara car free day. Sumber gambar dok. pribadi


1. Repotnya membagi waktu dengan keluarga

Bukan bermaksud patriarki, tapi banyak perempuan di sekitarku yang kewalahan karena harus mencurahkan perhatian antara mengurus rumah dan berbisnis.

Seperti yang aku sebutkan di awal, kebanyakan pelaku online shop adalah ibu rumah tangga yang memang berniat menghasilkan pendapatan tambahan atau sekedar aktualisasi.

Ritme ini seolah bentrok apalagi jika usaha yang dirintis masih terbilang pemula dan belum menghasilkan.

2. Sikap nggak enakan karena si pembeli adalah teman sendiri


Permasalahan berikutnya ialah sikap nggak enak hati, terlebih urusan bayar-bayar. Pernah nggak teman-teman merasa dilema ketika ada teman kita yang membeli barang dagangan dengan cara dicicil?

Atau jangan-jangan metode 'bisa dicicil' memang teman-teman gaungkan untuk menarik calon pembeli?

Nah, jadi repot sendiri kan jika pada ujungnya kita nggak enak mau nagih.

3. Keharusan meluangkan waktu untuk COD


COD alias cash on delivery banyak dilakukan, salah satunya untuk menjangkau lebih banyak pelanggan sekaligus menanamkan kepercayaan.

Terlihat gampil ternyata ada juga lho yang menganggapnya kendala. Apalagi buat ibu-ibu dengan anak masih balita yang nemplok melulu sama ibu. Kalaupun si kecil dititipkan pada nenek, biasanya si ibu yang malah kepikiran terus.

Tips Sukses Bisnis Online untuk para Moms Produktif


Bicara tentang hambatan pasti hadir pula solusi yang mendampingi. Berkaca dari pengalaman menjadi freelance selama 3 tahun membuatku memahami sedikit banyak ritme ibu rumah tangga yang berusaha produktif. Berikut hal-hal yang aku persiapkan agar segala tugas dapat terselesaikan :

1. Bikin to do list 


Tujuannya agar aktivitas harian berjalan tanpa ada pekerjaan yang terlewat. Bagaimana pun, ingatan kita terbatas. Terlebih jika banyak sekali hal yang harus dikerjakan.

Selain itu, kita juga perlu memasang target beserta triknya. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk membuat bisnis kita naik kelas.

Membuat catatan keuangan juga tak kalah penting. Meski usaha kita masih tahap merintis.

2. Ciptakan Sistem 


Sehingga pembeli akan menyesuaikan dirinya dengan aturan yang kita buat. Misal melarang pembeli membeli barang dengan sistem ngutang. Mungkin pada awalnya akan muncul perasaan takut kehilangan calon pembeli. Tapi percayalah bahwa pembeli akan tersaring dengan sendirinya.

3. Kerja Sama dengan Keluarga


Jalin komunikasi yang baik dengan partner. Sebelumnya, sempat aku singgung tentang istri yang keteteran saat mengerjakan tugas rumah sekaligus berbisnis. 

Nah, komunikasi yang terjalin lancar antara kita dan orang sekitar akan membantu mengatasinya. Suami misal, reaksinya tentu berbeda jika sejak awal kita jujur dengan aktivitas berbisnis dari rumah yang sedang dirintis.

Suami yang baik pasti dengan senang hati akan membantu.

Tips Memaksimalkan Cara Baru Dapat Rejeki dari Internet



Jualan online, hosting murah


Menghasilkan uang dengan teknologi bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat kita. Terbukti dengan makin banyaknya pelaku usaha yang mulai go online.

Agar maksimal, berikut beberapa triknya.

1. Miliki demografi 


Demografi pembeli seperti wilayah tinggal, jenis kelamin, usia, pekerjaan hingga kebiasaan mereka. Mengenali demografi pembeli memudahkan penjual dalam menganalisis kebutuhan calon pembeli.

Masih menggunakan contoh pedagang sayur. Meski rumahku dekat dengan pasar yang cukup lengkap, namun tak sedikit lho pedagang sayur keliling yang masuk hingga gang-gang.

Ternyata banyak juga ibu-ibu yang berbelanja di sana. Kalau dipikir-pikir rasanya mustahil ya. Lha wong ke pasar aja cuma 5 menit!

Rupanya pedagang sayur keliling memahami karakter para pembeli yang tidak selalu mau ke pasar.

2. Buat website/blog


Selain akun di media sosial, pebisnis online hendaknya memiliki website/blog.

Website/blog pun bisa digunakan sebagai sarana branding, menunjukkan profesionalitas serta dapat menambah kepercayaan publik dengan kelebihan bisa diakses 24 jam non stop.

Dibanding sosial media lainnya, pencarian melalui Google masih menduduki peringkat atas lho. Artinya, menggunakan blog yang bisa dioptimasikan dengan teknik SEO ini masih memiliki potensi lebih baik dibanding hanya mengandalkan media sosial.

Website/blog sendiri bisa didapatkan dengan biaya relatif terjangkau dibanding menyewa toko secara offline.

Persiapan sebelum memiliki website/blog

● Tentukan niche sesuai dengan bisnis yang teman-teman geluti.

● Pilih jasa penyedia layanan domain dan hosting Indonesia terpercaya.

Jika pada bisnis offline kita harus mengeluarkan biaya untuk menyewa/membeli tempat usaha, melalui website/blog kita hanya mengeluarkan biaya untuk sewa hosting dan perpanjangan domain.

Keduanya relatif terjangkau dibanding sewa tempat. Nah, untuk menghemat biaya tersebut, teman-teman bisa mencari jasa penyedia hosting murah.

Biaya lain seperti membeli template premium dalam rangka mempercantik dan memudahkan pembeli mengakses website/blog, biasanya dikeluarkan saat membuat desain awal atau saat-saat tertentu ketika website/blog tersebut butuh maintance.

3. Utamakan investasi leher ke atas


Modal ataupun sarana prasarana adalah benda mati. Maju tidaknya sebuah bisnis ditentukan oleh diri kita sendiri sebagai sumber daya bergerak.

Mengikuti seminar atau kelas, membaca buku, mendengarkan sharing sesama pelaku bisnis bisa kita lakukan untuk membentuk pola pikir yang lebih baik.

Mindset memang tidak terlihat, namun hasil dari pola pikir yang baik tampak dari apa yang kita perbuat.

4. Menyadari kekurangan


Melengkapi poin sebelumnya tentang memiliki website/blog. Website/blog sendiri pastinya membutuhkan konten yang relevan dengan produk yang kita jual. Melalui cara ini secara tidak langsung, kita dapat menarik hati calon pembeli.

Mereka bersuka cita dengan konten yang kita hadirkan. Ini merupakan salah satu contoh berjualan secara halus alias soft selling.

Dalam membuat konten, tidak semua dari kita menguasai ilmunya. Alih-alih berhemat dengan melakukan semua persiapan seorang diri, alangkah lebih bijak jika kita mencari bantuan pada pihak yang lebih berkompeten.

Hal ini pasti lebih efisien. Di satu sisi, waktu yang ada bisa kita gunakan untuk menyelesaikan tugas kita. Hasilnya pun pasti lebih profesional dibanding dikerjakan oleh seseorang yang sedang coba-coba.

5. Buat pembukuan


Tujuannya agar tidak ada hitungan yang terlewat, terlebih bila kita menjalankan bisnis secara auto pilot.

Nah, itulah beberapa cara baru untuk memaksimalkan bisnis dengan bantuan teknologi. Utamanya bagi ibu rumah tangga yang memiliki kerepotan tersendiri.

9 Responses to " Sigap Berinovasi, Trik Ibu Maksimalkan Bisnis Online-nya"

  1. Sekilas informasi harga cabai melambung tinggi bikin ibu rumah tangga menjerit.

    BalasHapus
  2. Sama nih, musim hujan gini mlijo (tukang sayur) yang biasanya lewat depan rumah jadi jarang lewat. Enak kalo ada aplikasi online beli sayur. Di sini udah ada sih yang semacam itu. Jadi lebih praktis. Tinggal klik maka pesanan langsung datang.

    BalasHapus
  3. Konon katanya kalau mau sukses berjualan online harus berani buat aturan yang tegas ya, Mbak. Tidak ada yang boleh berhutang, atau bahkan tidak ada harga teman. Dalam bisnis profesionalitas itu perlu banget, bahkan walaupun saat berjual beli dengan saudara atau keluarga

    BalasHapus
  4. Bisnis online emang kelihatannya mudah bin gampang. Tapi kalo udah nyemplung di dunia nyatanya, ribet juga kalo ga bisa ngaturnya. Tulisannya bagus banget nih buat menghandle bisnis online. Apalagi buatbibubrumah tangga dengan anak bannyak

    BalasHapus
  5. Ide yang bagus kalau pedagang sayur berjualan online lewat website. Terlebih jika mereka dibikinin, hehe..

    Kalau memang bikin website, kendala berikutnya adalah membuat foto yang ditampilkan di dalam website.

    Hal itu tidak gampang tapi setidaknya harus ada yang membantu agar mereka bisa juga tetap berjualan di tengah harapan demi seperti sekarang ini atau ketika situasi sedang hujan seperti di tulisan tadi.

    BalasHapus
  6. Setuju saya mbak, karena ketika ingin memulai usaha kita harus totalitas ya mbak, Jangan setengah-setengah. dan harus punya website agar semakin dikenal

    BalasHapus
  7. Yang terakhir jozz banget. Buat pembukuan! Sering lupa tuh bikin pembukuan khusus untuk jualan online. Jadinya kecampur dengan pengeluaran rumah tangga, terus bingung sendiri deh. Makasih sharingnya...

    BalasHapus
  8. Triknya bagus ya, jaman sekarang memang semuanya mengarah lebih digital. Meski cara-cara tradisional gak selamanya benar-benar mati

    BalasHapus
  9. Jualan online itu business trust. Sebaiknya tidak dilakukan setengah-setengah, harus diseriusin. Sekali pelanggan kecewa atau gak percaya sama kita, dampak negatif ini bisa membunuh usaha yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Website menurut saya sangat penting, terlepas penjual lebih senang beriklan di medsos, misalnya Facebook Ads atau Insta Ads.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel