Tips Menghadapi Kritikan Orang Terhadap Gaya Parenting Kita


Orang yang *maaf* cacat akan marah atau setidaknya merasa sakit hati ketika orang lain menyebutnya demikian. 

Tapi, pepatah lain yang pernah saya dengar mengatakan 'saat orang lain melemparimu batu, rasanya memang sakit, tapi dibanding terus-terusan merasakan sakitnya, lebih baik pungut dan tata hingga menjulang tinggi membentuk bangunan yang kokoh.'

Belakangan ini saya sedang mencoba mempraktekkan pepatah ini, sebuah unpopular opinion, termasuk dalam menghadapi kritikan dari orang lain terkait gaya parenting saya.

Sesuai pribahasa tersebut, kritik bisa menjadi kekuatan ketika kita menghadapinya dengan bijak. Sakit sih tapi nggak perlu dipikirkan terlalu lama.

Ini adalah prinsip saya dan pastinya nggak bisa dipaksakan untuk orang lain.

Manfaat Menyikapi Kritik Orang Lain dengan Kepala Dingin :


  • Sebagai manusia biasa yang pastinya nggak sempurna, sebuah kritikan bisa menjadi koreksi atas pilihan yang kita tempuh. Mau dipraktekkan atau tidak, balik lagi menyesuaikan keadaan.

  • Ketika mendapat kritik dan nggak baper terlalu lama, tapi justru segera memperbaiki, waow hasilnya jauh lebih baik lho. Alhamdulillah. Saya pernah menulisnya di sini.

Tapi niat baik sering disalahartikan ketika kita menggunakan cara yang kurang tepat. Jadi saat memberikan kritik pada orang lain memang harus hati-hati banget, terlebih topik sensitif yang merupakan wilayah privat orang lain.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memberikan Kritik pada Orang Lain :


  • Jangan memberi pendapat padahal tidak diminta

Segatel apapun mulut kita sebaiknya tetap ditahan ya, terutama jika yang menjadi sasaran adalah hal yang berkaitan dengan fisik atau kemampuan tertentu. Apalagi kalau tujuan akhirnya hanya mengunggulkan milik kita. Ini sih menurut saya nggak banget, memuji diri sendiri dengan merendahkan yang lain.

Orang yang tidak minta masukan bisa jadi karena dirinya memang tidak butuh masukan. Jadi ngapain buang-buang waktu hanya karena tindakan mereka tidak sesuai dengan prinsip kita?

  •  Jangan sembarang melempar pendapat apalagi kalau hanya sekedar kenal

Saat sedang membagikan foto selfie, tiba-tiba mendarat kritikan yang mak nyes tentang badan kita; muka yang penuh bintang, badan melar akibat hormon, kantong mata yang menghitam, rambut kayak rambut singa, rasanya benar-benar tidak nyaman ya. Padahal faktanya ya kayak gitu. So, kalau diri kita sebenarnya nggak suka ya sebaiknya tidak usah memperlakukan orang lain seperti itu. Apalagi kalau kenalnya hanya di sosmed. Dyh! Put yourself on the other shoes.

Kritikan yang membangun sebaiknya diberikan pada orang yang benar-benar kita kenal dan kita pahami karakternya. Ya nggak sih?

Ada beragam karakter orang, ada yang tipe easy going, santai menghadapi sesuatu tapi ada juga kan yang disentil dikiiit aja udah ngambek 40 hari 40 malam. 

Mengenal baik karakter orang lain, akan memudahkan kita untuk memilih cara yang pas.

  • Pilih bahasa yang netral

Rasanya nyaman kan kalau mendengar perkatan orang dalam kalimat netral tanpa merasa disalahkan atau perasaan terpojok. Nggak perlu mendadak jadi hakim juga karena kita ngak pernah tahu perjuangan orang lain, tidak tahu sepenuhnya apa yang terjadi. Tanpa menghakimi masa lalu alias hal-hal yang tidak bisa diubah dan fokus saja memberi masukan solusi yang bisa ditempuh. Saya pernah menceritakan pengalaman tersebut di sini.

Nah, itu adalah beberapa trik yang bisa kita pilih saat benar-benar tulus ingin membantu dengan cara memberi kritik yang membangun.

Kritik biasa terjadi, namanya juga manusia dengan isi kepala yang berbeda. Menurut saya, perdebatan sering muncul karena kita menganggap benar prinsip masing-masing atau kekeuh dengan pemikiran sendiri-sendiri. Termasuk dengan perbedaan prinsip antara kita sebagai orang tua jaman sekarang versus kakek nenek sebagai orang tua kita pada masanya. Namanya juga beda jaman, tantangannya pun berbeda. Hanya saja, ada orang-orang yang mengikuti perubahan tapi ada juga yang berpegang teguh sama prinsip.

Nah, buat mommy-mommy yang sering mak nyes hatinya mendengar nyinyiran orang lain terutama orang tua atas gaya parenting kita, cuss cari tahu triknya di postingan ini. Teman saya sempat memaparkan perasaannya setelah mengalami beberapa kali beda pendapat dengan orang tuanya.

Tidak ada komentar