Ngirit Terus, Kapan Senang-senang?


Jadi pada akhirnya menjadi ibu memberiku banyak pengalaman seru. Satu diantaranya, dalam membelanjakan uang nih.

Hidup tanpa bekal cukup tentang me-manage rejeki membuatku bersyukur karena dipertemukan dengan suami yang hemat sehingga aku bisa berguru langsung.

Maybe ada yang pingin baca kisahku dalam menyikapi jodoh di sini.

Sejak akhir tahun 2019 kemarin, aku sudah mulai menerapkan ilmu yang kudapat dari beberapa kelas finansial yang aku ikuti.

Pada perjalanannya perasaan naik turun mengikuti. Iyalah, biasanya gatel sama diskon ini ditahan-tahan banget karena uang disimpan untuk prioritas lain.

Salah satu kalimat andalan dalam mencuci pikiran saat diserbu diskon adalah, "Udah ntar juga ada lagi diskonnya."

Karena menurutku, saat kita gagal berhadapan dengan hal sepele semacam susah nolak diskon, maka selamanya kita akan susah nolak. Kalah terus dalam satu kasus yang sama. Lha, kapan naik kelasnya?

Ada masa-masa pingin banget belanja. Mungkin rasanya seperti orang sakaw kali ya. Pingin banget tapi berusaha ditahan. Hingga pada akhirnya, aku bisa kebal dengan diskon. Sumpah rasanya tuh biasa aja. Selama nggak butuh ya nggak kubeli.

Setelahnya aku merasa lebih bijak dalam mengeluarkan uang. Wqwq. Kayak mikir berjuta kali sebelum deal.

Mungkin tertarik buat baca Bukan Pelit, Tapi Prioritas.

Cuma satu yang perlu diingat, jangan lupa kasih diri sendiri aturan yang jelas kapan bisa belanja atas dasar Y.O.L.O ahahaaa.

Nah karena ini juga aku ubah strategiku sama anak. Kalau dulu lumayan ketat ga kasih dia sesuatu yang tidak terlalu dibutuhkan, kali ini agak kendor.

Tapi tidak boleh kelepasan juga. Caranya dengan kasih dia pengertian bahwa harus ada perjuangan kalau kita menginginkan sesuatu. Kita perlu sabar dulu kalau mau beli sesuatu, entah nunggu duit terkumpul atau momen yang tepat.

Karena ada kan kasus, anak yang serba dilarang sama ortunya ehh begitu si anak punya uang sendiri nggak terkendali deh. Niat ortu baik tapi segala yang 'too much' memang tidak pernah baik. Ingat, kita tuh manusia yang kebutuhan psikologisnya butuh dipahami. Ahahaaa.

Tapi jangan salah, ada pula anak yang terlalu dibebaskan sejak kecil untuk membeli apapun, hingga karakter seperti ini terbawa hingga dewasa. Bebas belanja, rekening nggak ada isinya.

Nauzubillah semoga tidak menular ke generasi selanjutnya. Ehehe, yap akulah si anak itu.

Zuzur sulit tapi ya udahlah berjuang aja dulu, bagaimana pun hasilnya kita nggak salah karena sudah berusaha.


Tidak ada komentar