Semacam Unek-unek Terkait Corona


Tentang anjuran untuk membatasi interaksi sosial terkait wabah COVID-19 ini zuzur bikin gemes. Gemes sama pemikiran yang bisa berakibat fatal dari beberapa kalangan, mereka yang hobi menyalahkan priviledge orang lain dan berlagak seolah menjadi yang paling merugi hingga ngatain orang yang melakukan tindakan preventif itu 'lebay' ya gitu-gitu deh.

Pun sempat bingung juga mengambil keputusan karena saya berada di wilayah yang masih berstatus waspada. Sehingga di sini warga masih beraktivitas seperti biasa. Yang berbeda hanyalah terdapat sosialisasi untuk menjaga kebersihan dan kesehatan yang lebih ditingkatkan.

Nah saya takut dikatain lebay itu tadi hehehehe.. Maklum saya mah masih nggak pede-pede amat kalau ambil keputusan yang beda dari orang lain :(

Btw, hal ini membuat saya teringat satu kejadian belum lama ini. Tentang perasaan takut saya untuk berkonsultasi ke dokter. Kebetulan tenggorokan saya rasanya ga nyaman. Pernah mengalami sakit gondok membuat rasa waspada saya meningkat. Saat itu keluhan yang saya alami hanya rasa tidak nyaman. Entah apa yang terjadi kalau saat itu saya abadikan.. Mungkin harus merasakan meja operasi.

Akhirnya setelah menunda kurang lebih 3* hari Jumat (13 Maret 2020) dengan yakin saya mengunjungi dokter. Dalam pikiran saya terus meyakinkan diri, keadaan saya saat ini tidak lebih parah dibanding nanti kalau-kalau diagnosis pemeriksaan yang keluar tidak terlalu menyenangkan untuk saya. Buktinya saya masih mampu melakukan aktivitas seperti biasa.

Namanya juga tubuh yang merasakan keluhan, hanya memiliki dua kemungkinan ; membaik dengan sendirinya atau malah sebaliknya.

Jika hasil 'tidak terlalu parah' yang keluar. Alhamdulillah, rasa lega saya tervalidasi oleh data, oleh hasil pemeriksaan orang yang memang berkompeten di bidangnya. Bukan atas angan-angan yang diperkuat oleh hasil menyapa Google.

Bukannya kita hanya perlu usaha dan berdoa, hasil akhir biar Dia yang menentukan.

Rasa takut memang manusiawi, namun tak jarang bisa menggerus nalar.

Hal lain yang saya tekankan guna meyakinkan langkah hingga bertemu dokter adalah karena ada banyak hal yang ingin saya capai namun bisa gagal jika saya sakit. Well, hingga sampai di depan rumah sakit bagian hati saya yang lain tetap berbisik "tar sok tar sok" lho.

Prinsip as soon as possible bener-bener deh menjadi pegangan.

Balik lagi membicarakan social distacing, di wilayah saya DIY belum menetapkan wabah ini sebagai kejadian luar biasa (KLB). Hingga Rabu 18 Maret 2020, angka positif COVID-19 berjumlah 2.

Sehingga dengan beragam pertimbangan, pemerintah belum mengeluarkan kebijakan work from home atau meliburkan sekolah-sekolah. Hanya beberapa kebijakan bagi ASN seperti menunda rapat.

Hanya ada beberapa organisasi yang meliburkan muridnya. Atau ortu yang meliburkan anaknya. Anak saya kebagian sekolah yang tidak ada pengumuman libur nih.

Dalam keadaan bingung bercampur setengah lega begini saya anggap sebagai ajang latihan untuk lebih mendengar diri sendiri (pinjam istilah teh Icha).

Jika kita kilas balik, wabah COVID-19 melanda Cina akhir 2019. Nggak butuh waktu lama akhirnya menjangkit hampir seluruh dunia. Di Indonesia sendiri ditemukan pasien positif Corona pada awal Maret 2020. Jumlah yang awalnya 2 orang meningkat drastis hingga mencapai ratusan hanya dalam kurun waktu sekitar 2 minggu saja.

Melihat data ini saya jadi makin waspada. Hmm, level was-was setelah menjadi ibu-ibu emang mudah naik ya..

Virus ini begitu mudah menyebar, melalui cairan yang bisa muncrat ketika batuk, bersin, bahkan ngobrol. Masuk ke tubuh orang yang sebelumnya sehat melalui mulut, hidung dan mata. Virus ini tuh ga kelihatan karena orang yang terinfeksi tidak langsung menampakkan gejala.

Adanya kebijakan membatasi interaksi sosial ini kan ya untuk meminimalisir penyebaran virus.

Nah, karena belum ada kebijakan pasti tapi di sisi lain saya melihat data kok begitu inilah beberapa upaya saya sebagai bentuk antisipasi :


  • Membatasi apa yang bisa dibatasi, mengurangi apa yang bisa dikurangi, seperti meliburkan secara mandiri anak saya. Dengan begini saya bisa lebih tahu ngapain saja, kemana saja, dengan siapa saja dia berinteraksi.
  • Rajin bersih-bersih. Cuci tangan pakai sabun, memperhatikan makanan dlsb.
  • Suami saya karena alasan pekerjaan nggak mungkin untuk stay di rumah. Hmm, yaudah saya wanti-wanti banget, salah satunya bawel untuk bersih-bersih setelah sampai rumah. Sepenuhnya pasrah tapi ya usaha.


Dalam prakteknya, dinyinyirin orang ya pasti akan terasa karena sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging 'kalau ga sama tuh ga fren.'

Saya tegaskan ke diri sendiri, saya tuh cuma bisa pasrah, yakin sama ketetapan Allah dan berusaha sesuai kapasitas yang bisa saya lakukan. Soal hasil ya tetap itu adalah hak sepenuhnya Allah pemilik alam.

Semoga wabah ini memiliki happy ending yaa.. Aduh, tiba-tiba ingat, ada 2 undangan di bulan Maret ini. Hwaa challenging sekaleee karena keduanya sodara dan tetangga dekat.

Enggak tahu entar kayak gimana tapi saya hanya doa semoga bener-bener happy ending. Dan nggak lupa jaga jarak, bersih-bersih dlsb.

*ditulis dengan tidak fokus karena belum beresin anak 🤣

2 komentar

  1. Hahhaha, ini sama kayak aq kemaren loh. Belum ada pengumuman libur sudah meliburkan diri. Soalnya rasanya kita agak lambat awarenya, banyakan seremonial.

    BalasHapus
  2. Semoga wabah ini segera berlalu ya kak... dan kita bisa berinteraksi dan beraktivitas seperti sedia kala kembali...

    BalasHapus