Rumah Tanpa Televisi

Televisi, TV, tivi

Salah satu impian saya adalah memiliki rumah yang tidak dilengkapi televisi. Hal ini dilatarbelakangi oleh beberapa pengalaman yang saya miliki.

Sebagai contoh nih, saya bisa berhasil enggak makan mi instan satu bulan full pada bulan puasa. Tetapi saya mudah sekali gagal kalau tidak sedang berpuasa.

Contoh selanjutnya, saya bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk scroll-scroll Instagram dan ini berimbas pada anggaran kuota internet yang membengkak. Namun ketika saya uninstall aplikasi Instagram dari ponsel, saya bisa lho irit-irit jatah internet.

Akhirnya saya pun menarik kesimpulan, ternyata pengendalian diri saya lemah tetapi saat faktor si penyebabnya dihilangkan, ya ternyata bisa kok!

Ya, inilah yang melatarbelakangi keputusan nggak usah memiliki televisi di rumah baru. Hehe..

Apalagi dulu sehari-hari anak saya tidak bisa hidup tanpa tivi. Bangun tidur langsung menyalakan tivi. Sore~malam betah sekali menyaksikan acara kartun dengan episode yang diulang terus sampai hafal dialog.

Menurut saya, televisi membuat penikmatnya menjadi pasif. Saya nggak suka lihat anak saya seperti itu.

Manfaat Tidak Memiliki Televisi di Rumah

Televisi, tivi, Tv

• Seluruh anggota keluarga nggak menggantungkan kebahagiannya pada televisi

• Ada waktu untuk menikmati kebersamaan walau sebentar

Problem yang saya hadapi


• Capek menyuruh anak membereskan mainannya yang kerap berantakan akibat ulahnya yang sedang gabut. Maka, ya dinikmati saja alurnya rapi~berantakan~rapi~repeat. Karena segala keputusan memang menghadirkan konsekuensi.

• Ibu dan bapak tidak bisa seenaknya memilih jam tidur, kebiasaan lama anak nonton televisi ibu mainan hp atau tidur hmm.. Maka, ya diatur agar jam leyeh-leyeh tidak bentrok dengan jam menemani anak. Zuzur masih sering eror. Huft..

• Kadang-kadang butuh hiburan, larinya ke handphone deh :( Mainan hp sambil rebahan, combo sebuah kesempurnaan :( Maka, ya dibiasakan untuk pegang hape dalam posisi baik yang ternyata susyaaah.

• Harus bisa kreatif melakukan kegiatan bersama anak dan ini problem karena saya merasa nggak kreatif. Maka, taruhlah anak di daycare ehehe.. Sampai di rumah kita tinggal mengulang kegiatan yang disampaikan ibu guru, cerita-cerita, main ke tempat tetangga atau lari-larian di lapangan.

Kesimpulan :


Memiliki rumah tanpa televisi adalah satu bentuk strategi yang mirip-mirip dengan melarang anak makan mi instan. Saat anak masih kecil, ia lebih mudah 'dikelabuhi'.

Namun dengan semakin bertambahnya usia anak maka pola pikirnya pun akan berkembang. Nah, menjauhkan faktor penyebab mungkin sudah tidak berlaku lagi di sini.

Tetapi, berdasar pengalaman saya yang tidak pernah memberikan anak makan mi instan (krn saya punya trauma dengan mi instan) hal baik ini jadi kebiasaan lho. Sampai detik ini usianya 4 tahun Alhamdulillah anak saya belum pernah makan mi instan. Ia kurang berminat mungkin karena sudah terbiasa.

Mendidik anak tak semudah teori ya karena contoh kasus biasanya dapat diselesaikan dengan lebih mudah. Butuh strategi yang harus selalu di-update ehehe.. Nah, selamat membersamai buah hati buibu ❤


2 komentar

  1. Waktu kecil kami dilarang nonton TV, alhasil saya suka baca, tapi kudetnya kebangetan hahaha.

    Saya dong nggak tahu jelas film unyil dan semacamnya itu.

    Kalau zaman sekarang mah, kebanyakan informasi malah.
    Jadi anak saya selalu saya kasih jadwal nonton, meski tetap juga kadang bolong gitu, bukan jadwalnya dia nonton TV :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba makanya harus sering audit ini mah hahaha

      Hapus