Anak Malas Sekolah Setelah Libur Panjang?


Anak malas sekolah rasa-rasanya merupakan problem yang sudah tak asing bagi saya.

Seperti orang dewasa, anak kecil pun butuh adaptasi. Nah, proses adaptasi inilah yang pada setiap anak tidak bisa disamakan. Hal ini terkadang jadi penyebab anak tidak mau sekolah, karena tidak nyaman. Tapi, kalau udah cucok ya betah di sekolah sih. Begitulah..

Beragam cara saya coba, kalau lagi beruntung ya berhasil. Kalau lagi apes, ya doa semoga segera menemukan solusi. Hehehe..

Menjadi ibu untuk pertama kalinya membuat saya minim pengalaman, ya udah sih saya bakal menjadikan pengalaman orang lain sebagai contekan. Membaca beberapa literatur dari sumber yang ahli di bidangnya sebagai bekal mempertimbangkan keputusan.

Berbekal pengalaman trial and error dalam menangani anak tidak mau sekolah membuat saya lebih waspada. Terutama ketika libur panjang datang.

Inilah beberapa hal yang saya lakukan saat libur panjang tahun baru kemarin :


1. Sounding


Saya katakan padanya, "Besok libur panjang tapi setelah libur selesai, sekolah lagi ya!"
Responnya kadang dengan semangat membeo ucapan ibu guru yang mengumumkan masuk sekolah kembali di hari kedua bulan Januari. Tapi ya nggak jarang selalu dibalas dengan satu kalimat yang sama, "Enggak mau sekolah!"

2. Ulangi sounding


Ketika liburan hampir habis, saya kembali mengingatkan padanya bahwa tidak lama lagi bakal masuk sekolah. Kata sebentar lagi di sini, selalu saya perjelas dengan keterangan waktu, misal nih, "Masuk sekolah hari Kamis, tanggal 2." Saya menjelaskan padanya, "Hari ini hari Selasa, besok Rabu, kemudian Kamis, nah hari Kamis masuk sekolah."

Alasannya, saya pernah baca dimana gitu, seumuran anak saya (4 tahun awal) masih belum mengerti konsep lama, sebentar, sedikit, banyak dlsb. Baginya hal ini masih abu-abu. Jadi kalau ngomong sama anak (dengan usia tertentu) sebaiknya pakai konsep 'ya-tidak' dlsb.

Pun berlaku saat ia menginginkan makanan tertentu, boleh atau tidak bukan boleh tapi sedikit. Ya, siapa yang bisa menjamin sedikit menurut saya dan dia bisa sama? (saya lupa nemu dimana, tapi kalau nanti ketemu bakal saya update ya)

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan sounding pada anak :


Perhatikan intonasi

Cara mengatasi anak malas sekolah

Berdasar pengalaman pribadi, ketika saya menginginkan anak melakukan suatu hal dengan intonasi saya yang seperti orang ngamuk, dia bakal meresponnya dengan cara yang sama : ngamuk. Jadi intonasi benar-benar harus saya perhatikan.

Pemilihan kalimat sederhana, mudah dipahami tapi mencakup seluruh misi yang ingin kita capai

Nah, loh, pusing nggak?

Saya juga pernah baca (tapi monmaap lagi-lagi lupa sumbernya) yang menyatakan kemampuan memahami kalimat anak belum sesempurna orang dewasa. Jadi gunakan 3-4 kalimat agar ia paham. Kalau butuh penjelasan panjang? Saya potong-potong menjadi beberapa kata, menunggu ia paham kemudian baru dilanjut.

Repot? Jelas hahaha.


Cari celah

Negosiasi bersama anak bukan mencari siapa yang kalah siapa yang menang, tapi dari yang pernah saya dengar dari pak Tung Dasem dalam obrolan beliau tentang menjadi orang tua yang efektif, adalah dalam negosiasi kita cari win-win.

Nah, kebetulan saat negosiasi alot ini terjadi (masing-masing kekeuh dengan keinginannya), saya menemukan celah untuk melumerkan hati anak saya.

Saya tahu dia kepingin sekali dibelikan baju dengan lampu LED. Beberapa hari sebelumnya, ketika kami berdua melintas di sebuah toko pakaian, ia juga mengutarakan keinginan tersebut. Seperti biasa, saya redam dulu hasrat menggebu-gebunya dengan bilang, "Nanti tanya bapak dulu ya.. ."

Dia angguk-angguk. Tapi, ya tetep nggak lama lagi dia mengutarakan keinginan yang sama. Kalau sudah berkali-kali minta gini, saya jadi lumayan yakin kalau dia memangbenar-benar menginginkannya. Ya, berdasar pengalaman, kami membelikan barang yang dia inginkan tapi berakhir gitu aja di pojok ruangan.

Kami pingin dia bisa menghargai apa yang dimilikinya, ceileh..

Selanjutnya, saya beri dia satu pertanyaan :

"Kamu pingin baju nyala?"
"Iya, mau mau!!"
"Ya, besok ibuk beliin ya. Tapi ibuk harus kerja dulu biar dapat duit. Ibuk kerja, kamu sekolah."

Saya ulangi alur tersebut hingga dia paham, bahwa ketika membeli sesuatu kita harus pakai duit. Duit bisa didapat salah satunya dengan bekerja. Ketika orang tua bekerja, maka ga bisa nemenin anak main. Jadi ada anak yang ditemenin dulu sama bu guru, main dulu sama teman-teman di sekolah. Sebuah alur yang saya ulang hingga case closed.

Saya ulangi lagi sounding tersebut pada malam hari sebelum hari pertama masuk sekolah baginya (karena hari pertama beneran dia masih lemes sisa-sisa demam).

Kalau udah terlanjur malas sekolah?

Mungkin bisa dicari dulu penyebabnya apa, baru deh bisa dicari solusinya :)


Do and Dont's


Saya selalu wanti-wanti pada diri saya, saat membuat kesepakatan bersama anak jangan sampai membuat diri anak menjadi seseorang yang money oriented. Nurut kalau dikasih hadiah. Naudubillah. Selain nggak menggunakan 'tipe sogokan' yang sama, selalu berusaha menjelaskan proses sama dia serta (dari yang saya baca) mebuatnya berjuang dulu baru dikasih hadiah.


Malam itu, saya mengingatkan kembali padanya kalau besok harus sekolah, diselingi candaan kalau bohong berarti bakal ibu kelitikin. Sambil ngekek kita berdua unyel-unyelan. Alhamdulillah, paginya ia sekolah dengan happy :)

Tidak ada komentar