Ketika Umur Hanyalah Sebuah Angka


Bertemu dengan beliau memberikan saya sudut pandang baru. Berbeda dengan kenyataan yang banyak saya temukan di lingkungan sekitar. 

Beliau memiliki usia yang bisa dibilang akan segera masuk usia senja. Namun semangatnya, jangan ditanya. Beliau begitu sibuk hilir mudik mengurusi sejumlah printilan agar acara gathering tersebut berjalan lancar. Beliau yang ramah, beliau yang hangat dan beliau yang stay active meski usianya tak muda lagi.

Di lain sisi, saya sering gemas ketika bertemu dengan dedek-dedek muda yang barusan jadi manten dan sibuk konferensi pers di sana-sini. Nyinyir mode on HAHAHA.

'Aku yang usianya masih segini, udah laku lho,' kurang lebih kalimat itu yang saya tangkap dari sikap mereka.

Iri? Jelas tidak. Saya tuh cuma gemes HAHAHA. Gemesnya mirip saat ketemu mba-mba yang begitu mengagungkan parasnya. Nol prestasi.

Dulunya saya berfikir apakah saya begini karena (merasa) tak secantik dia? Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, ahh nggak juga sih. Lalu? Ternyata quotes ini yang saya temukan :

“(Mungkin) hal-hal seperti usia-nya berapa, parasnya menawan atau tidak, dia terlahir dari keluarga ningrat atau biasa saja. Hal semacam itu disikapi sewajarnya. Hya, karena hal kayak gitu cuma dikasih, cuma-cuma. Dapatnya nggak pakai perjuangan.”


Mendadak saya ingat sebuah program yang menayangkan Dian Sastro sebagai bintang tamu. Di situ mba Dian menceritakan pengalamannya sebelum memutuskan ikut gadis sampul. 

Penyelenggara memberikan syarat, salah satunya peserta harus memiliki karakter. Tak cukup bila hanya cantik atau bermodal usia belasan. Mereka harus punya karakter yang pastinya dibentuk dari perjuangan, entah itu dalam bentuk latihan, disiplin, menyiksa diri dalam arti positif dan sebagainya.

Ya gini, perempuan-perempuan yang terlahir katakanlah punya paras yang sempurna kemudian semakin mempesona karena dia rajin belajar, tak bosan berlatih, maju terus, optimis, berjuang. Nah ini yang selalu bikin mata berbinar. Mereka cantik dan ber-value.

Pingin deh kayak tetangga dekat rumah. Ibunya cantik, ayahnya ganteng, anak-anak pasangan suami istri tersebut Masya Alloh.

Mereka punya sopan santun, ramah dan nggak gengsi bantu kerjaan rumah. Seorang remaja cowok bermuka ganteng dengan style yang keren plus anak seorang juragan tapi mau turun tangan angkat jemuran tuh menurut saya adalah sesuatu yang WOW.

1 Response to "Ketika Umur Hanyalah Sebuah Angka"

  1. Saya cukup bisa menangkap apa yang Mba gelisahkan. Kurang lebih saya punya sudut pandang yang sama kalau melihat fenomena ini.
    Di luar sana, banyak yg membanggakan keberhasilannya padahal dari hasil gratisan. Anak orang kaya raya bangga bisa punya usaha besar, padahal ngelanjutin punya bapake. Bangga jadi pimpinan cabang/daerah termuda dari salah satu partai, padahal pimpinan atasannya bapake sendiri. Ckck

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel