Impian-impian Setelah Menikah


Saya masih ingat jelas, sebelum menikah sempat menyangkal pendapat seseorang yang telah terlebih dulu berstatus sebagai pasangan resmi seseorang. Aelah!

Menurut beliau, serumah bersama mertua itu enggak bebas. Setiap detiknya akan dipenuhi perasaan sungkan. Hal-hal kecil bisa bikin bentrok.

Bibir saya membantah, "tapi mertuaku baik." Yess, sampai detik ini pun Alhamdulillah masih begitu. Namun berdasar apa yang telah saya rasakan, kali ini saya 100% setuju, bapak tersebut mengatakan ya realitanya tuh begitu.

Ada rasa sungkan. Ada rasa bersalah saat terlambat bangun. Pokoknya tak semerdeka saat masih gadis, bangun lalu menemukan ibu yang ternyata sibuk di dapur. Hahaha..

Kondisi keluarga saya yang 'bahagia' seperti ini saja tak memadamkan impian saya punya rumah sendiri lho, lalu bagaimana dengan mereka yang memang ada konflik?

Baru sebulan sih menempati rumah sendiri, so pingin cerita sedikit tentang apa saja yang saya rasakan.

Alasan Pisah Rumah Padahal Suami Dapat Jatah Rumah dari Ortu

Saya punya banyak alasan ndakik-ndakik tapi karena males sakit hati lagi dinyinyirin atau pada ujungnya dikatakan, 'alah alasan,' maka saya simpan aja yaaa..

Saya hanya mau tegaskan. Bagi saya pribadi, iya rumah mertua emang  jatah suami. Tapi, saya nggak mau bersembunyi di balik alasan tersebut hanya untuk menutupi ketidakmampuan saya, rasa malas saya untuk berusaha. "Ayok kita bisa lebih dari ini kok!" Mumpung kita masih produktif, masih bisa usahalah.

Dan percayalah, orang tua mana pun akan bahagia kalau lihat anaknya berhasil. Salah satunya berhasil bikin rumah. Itu artinya, hasil kerja selama ini ada bekasnya, 'ternyata anakku bisa memilih mana yang penting dibeli mana yang enggak.'

Alasan Kenapa Punya Rumah Sendiri Menjadi Impian Banyak Orang Setelah Menikah

Punya rumah sendiri tuh lebih bebas


Saya pun sepakat. Tapi bukan bebas yang tak bertanggung jawab ya. Dengan tinggal terpisah dari orang tua, saya pribadi merasa lebih bebas dalam menerapkan aturan sesuai dengan value yang mungkin berbeda dengan orang tua, misal saya lebih memilih rumah tanpa tivi, sedangksn orang tua sebaliknya. Tidak melarang anak menangis karena menangis merupakan salah satu bentuk mengeluarkan emosi. Sementara orang tua tuh kadang, yang penting anak anteng, nggak peduli meski nangisnya tuh hanya strategi. Yang penting anteng (meski dengan cara yang menurut saya enggak boleh).

Punya rumah sendiri itu bebas mau beres-beres kapan


Beberapa kali saya mendengar katanya punya rumah sendiru tuh bebas, termasuk bebas kapan jadwal beres-beres. Betul sih, di rumah sendiri saya merasa lebih santai. Tapi saya nggak bisa bilang hal tersebut benar 100%, paling nggak buat saya. Karena suami tetap mewajibkan rumah dalam keadaan rapi ketika dirinya balik sarang (next mau cerita ini ahh..).

Realita Punya Rumah Sendiri :

Ya harus siap dengan segala kebutuhan yang biayanya diambil dari kantong sendiri.

Next, pingin cerita juga gimana perjuangan kami demi rumah impian a.k.a aneka tips siapa tahu ada yang lagi cari, aja!

2 komentar

  1. Selamat ya mbak yang sudah punya rumah sendiri...


    Btw, salam kenal...

    BalasHapus