Prioritas


Ijinkan saya curhat hihi..

Beberapa hari kemarin kepala saya agak pening. Alasannya saya baru sadar kalau selama ini saya nggak punya prioritas (yang pasti). Alhasil, semua hal terasa penting dan seolah menjadi prioritas. Mumet deh terutama ketika sudah menyangkut cuan yang harus keluar dong pasti.

Hampir setiap hari saya merasa lelah tanpa menghasilkan pekerjaan. Hal ini berimbas pada keuangan yang carut marut karena semua terasa menjadi prioritas, semua harus ‘dibeli’ harus mengeluarkan duit.

Anak saya jatuh sakit. Hati tuh rasanya sediiih gitu. Terasa nggak becus ya jadi ibu. Nah, di titik ini saya menjadi sadar. Ternyata, kesehatan anak adalah prioritas utama saya. Sementara bukan pekerjaan, sementara bukan rumah rapi, sementara bukan fashion-nya, bukan mainan yang harus serba modern.

Oh ya di sini saya curhat mengenai hidup saya ya.. Dimana fashion anak bukan prioritas. Ya, karena saya jarang sekali menghadiri event bersama anak. Selain kondangan, posyandu atau kadang datang ke acara gathering sesama ibu-ibu blogger yang mungkin hanya sebulan sekali (sambil membawa anak) nyaris nggak ada lagi.

So, saya nggak perlu belanja fashion seminggu sekali karena kepentingan fashion untuk hal-hal tersebut sudah terakomodasi. Lain cerita dengan ibu yang rutin bersosialisasi bareng anak. Dimana penampilan nggak boleh dianggap tidak penting.

Yap, prioritas orang nggak bisa disamakan.

Kesehatan anak pun lebih prioritas dibanding mainan. Ya, karena di lingkungan rumah sudah terdapat banyak fasilitas yang mampu memenuhi kebutuhan bermain anak. Mau main di rumah tetangga, main bareng anak-anak sekompleks di bawah pohon talok di setiap sore, masih bisa saya lakukan dengan leluasa dengan perasaan nyaman serta aman. Alhamdulillah..

Mungkin lain cerita ya kalau saya tinggal di tanah rantau daerah metropoitan. Nggak punya kenalan dan kekhawatiran dengan tingkat kriminal yang jauh lebih tinggi dibanding di desa bisa saja mendominasi. Mungkin membeli mainan anak akan saya masukkan sebagai salah satu hal yang menyita perhatian.

Anak sakit terasa seperi tamparan yang mendarat tepat di atas jerawat batu yang masih mendem. Yha pol sakiitnya.

Untuk apa sih selama ini saya begitu antusias belajar tentang bagaimana menjadi ibu yang baik tapi kesehatan anak sering miss L

Ibarat lagi bikin rumah, saya sudah sibuk pesan katering untuk syukuran sementara jadi saja belum. Huhuhu.. Halu lah ya.

Akhirnya, detik itu juga saya memastikan bahwa fokus utama saya sementara ini adalah menjaga kesehatan anak (dan mengurus suami ehee).



Tidak ada komentar