Semangkok Seblak yang Menumbuhkan Percaya Diri



“Mendapat  50 ribu sekali posting itu lebih menyenangkan daripada mendapat lipstik seharga 500 ribu tapi hasil dibeliin -suami. Yaa, karena 50 ribu tersebut adalah bagian kecil dari deretan mimpi besar saya yang walaupun hanya di rumah tetapi tetap ingin menghasilkan."

Saya mengenal blogging sudah sejak lama. Kala itu nge-trend kegiatan nge-LJ alias menulis Live Journal. Impian menjadi seorang blogger otomatis terbesit sejak kala itu. Tapi senada dengan ungkapan anak millenial jaman sekarang, mungkin saat itu saya cuma HALU.

Halusinasi karena yaa mimpi tersebut nyatanya hanya sekedar numpang lewat. Kegemaran saya menulis nggak cukup sebagai modal saya untuk bertahan di dunia blogging.

Kala itu, teknologi belum berkembang sepesat saat ini. Jadi, 'lahan' dan dukungan (termasuk online courses) yang didapat para blogger bisa terbilang minim.

Di luar dugaan, kecintaan saya pada dunia blogging kembali bersemi setelah sekian tahun pudar macam judul lagunya Rossa*. Tetapi kali ini lebih dikarenakan unsur kepepet sih.

Ya, sebelum memutuskan menjadi tukang momong saya adalah seorang karyawan yang lumayan mobile.

Setelah melahirkan saya resign. Kemudian dyaar... dihadapkan pada rutinitas menjenuhkan karena hanya berkutat di lingkungan rumah.

Di situ titik jenuh muncul . Saya rindu eksistensi. Saya rindu merasa puas pada diri sendiri. Rindu mendapat apresiasi karena prestasi.

Akhirnya, akibat dari terinfluisasi seorang kawan lama mimpi saya untuk terjun dalam dunia blogging kembali menyala.

Satu tahun sudah saya menekuni dunia blogging. Susah susah susah senang saya rasakan. Iya, banyakan susahnya dibanding senangnya! 

Saya kemudian teringat momen-momen yang bergulir satu tahun belakangan yang pada detik ini mampu membuat saya menyunggingkan senyum.

Saya bahagia dengan yang saya temui hari ini. Ada perasaan haru melihat saya ternyata bisa setangguh itu.

Momen tersebut diantaranya,




1. Momen dimana suami  meremehkan perjuangan saya.

Tatapan melengos mungkin bosan yang disusul kalimat godaan setiap melihat saya intim dengan buku dan pulpen. Kalimat-kalimat yang kedengarannya sepele tapi sukses bikin hati saya hancur karena baper.

Mungkin suami hanya kasihan pada saya yang hampir setiap malam tidur jam 12, ehh nggak lama kemudian harus menemani anak yang terbangun.

Kalau sekali begadang dapat 1 milyar mungkin tak apa ya, lha ini NGGAK DAPAT APA-APA.

Terkadang saya membayangkan, andai bercandaan yang meluncur dari mulut suami tersebut berganti menjadi pijatan di pundak.

Tapi, ahh, mengingat saya adalah tipe orang yang, 'dikasih dikit ngelunjak!' rasanya tindakan suami sudah tepat.

Dan pada akhirnya, suami tetaplah pahlawan bagi saya.

Iya, pahlawan karena suami yang justru semangat 45 mencarikan saya laptop di kala keuangan dari nge-blog belum cukup.

2. Tangapan jujur dari bumer. Ungkapan yang meluncur jujur karena saat itu berhadapan langsung dengan suami.

“Laptop siapa itu?” tanya bumer pada suami.
“Laptop saya.”
“Buat apa beli laptop? Aneh-aneh!'

Biasa banget yaa tapi ntah kalimat sehalus itu terasa menusuk saat meluncur dari bibir ibu dari suami saya.




3. Badan yang harus rela bertahan merasakan sakit.

Iya, saking semangatnya menulis sampai membuat saraf punggung saya kejepit. Ini sempat bikin saya hanya bisa tiduran dan nggak bisa beraktivitas apapun.

Alhamdulillah, sudah membaik 😄.

4. Momen-momen menyunat jam tidur demi blogpost yang tayang sesuai schedule.

Setelah lelah dengan rutinitas tidur di jam 12, akhirnya saya lebih memilih bangun setiap jam 2 atau jam 3 pagi.

Dibilang mirip seperti tukang gorengan yang prepare dagangan sebelum dibawa ke pasar, pun tak apa.

Bagaimana tidak tersenyum, ternyata saya mampu melalui hal yang tidak mudah itu.

Saya bangga menjadi seorang narablog karena dari situ membuat diri saya percaya bahwa saya bisa. Bahwa saya mampu. Kalau saya berdaya. Saya yang cuma ibu rumah tangga.

Kepercayaan diri saya lahir terutama dari momen saat suami saya traktir semangkok seblak di warung tenda di pinggir jalan, menggunakan honor pertama dari nge-blog. :)

Jadi kalau ada yang bertanya, apa yang saya dapat dari kegiatan nge-blog? Berapa jumlah barang gratis yang diantar kurir hingga depan rumah? Berapa isi rekening saya hasil nge-blog?

Saya tidak akan mampu mengisi nominal yang saya dapat. Karena saya mendapatkan lebih dari yang bisa saya hitung, saya mendapatkan kembali rasa percaya diri yang tenggelam, terkubur oleh aneka tugas menjadi ibu.

Saya merasa bangga setiap melihat kata 'blogger' adalah kata yang disematkan di samping nama saya.

Kini meski samar, impian memiliki penghasilan dari rumah pun mulai terlihat. Alhamdulillah.

Harapan saya, semoga banyak blogger pemula (tunjuk wajah sendiri) yang tetap semangat menaklukkan blog. Mampu berkilau meski atribut yang selalu dibawanya adalah serbet di pundak. 

4 komentar

  1. Semoga serbet di pundak bisa menjadi inspirasi artikel yang mendulang semangat Mbak untuk berbagi lewat blog ini. =)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wqwq geli sendiri mba dengar ada serbet di pundak. Hahaha. Oke thkyuu mba 😍

      Hapus
  2. Entah kenapa aku terenyuh membaca kalimat "saat suami saya traktir semangkok seblak di warung tenda di pinggir jalan, menggunakan honor pertama dari nge-blog" masya Allah senang banget yah kak, smg makin lancar ngeblognya kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat itu saya bilang ke suami, pokoknya honor pertama buat traktir dia. Mungkin kasihan, seolah tahu honornya belum banyak akhirnya dia milih di warung tenda dekat alun-alun. Haha. Doa balik kaak.

      Hapus