5 Kiat yang Membuatmu (Mungkin) Akan Lebih Betah Saat Menjadi Stay at Home Mom

Gambar
Menjadi ibu seharusnya bisa membuat kita lebih bahagia. Kalau sebaliknya, ya berarti harus ada yang dibenahi.

Saya bisa betah menjadi seorang Stay At Home Mom (baru) selama 3 tahun 3 bulan karena saya tahu apa yang membikin saya tidak betah.

Iya, saya pernah merasa enggak betah dan pingin balik kerja saat hanya di rumah, terutama di tahun kedua.

Saat hanya di rumah, saya merasa kehilangan banyak hal, pengakuan akan kemampuan (yang dulu saya dapat di tempat kerja), aktualisasi diri, bertemu teman-teman, transferan gaji dlsb.

Ada banyak pertimbangan yang membuat saya akhirnya tetap memilih 'hanya' di rumah.

Ini lho hal-hal yang saya lakukan, barangkali bisa mencerahkan buat buebu yang sedang jenuh dengan peran full Ibu Rumah Tangga.

Langsung aja yuk,

1.  Cari hobi

Kata saya, hobi itu ada 2 macam, yang menghabiskan dan yang menghasilkan. Kalau bisa sih cari hobi yang menghasilan, tapi kalau mau hobi yang menghabiskan ya terserah, lha wong yang kita cari adalah KEBAHAGIAAN jadi be…

Hal-hal yang Disesali (30 DAY CHALLENGE BPN HARI KE-23)


Setiap teringat pada kejadian tersebut, rasanya hati ini diliputi banyak sesal.

Sesal pada hal yang kurang mengenakkan aku rasa sifat yang amat manusiawi yaa.

Asal jangan kebablasan sih.

Dan caraku merelakan apa yang aku sesalkan biasanya dengan mengucap kalimat, "Qodarullah."

Seketika plong deh. Semua sudah ketentuan Alloh bakal terjadi, mau apa lagi?

Aku cuma yakin ada banyak hal berharga yang bisa diambil.

Hmmm.. Jadi penyesalan nomor satu adalah,

Terlalu memaksakan kehendak pada anak.
Waktu itu masa mp ASI anak. Seperti perempuan yang baru pertama kali menjadi ibu lainnya, aku sangat perfeksionis.

Setelah membaca sebuah artikel kemudian aku memutuskan untuk menjadi salah satu penganutnya.

Aku membuat aturan sehingga semua -tampak- serba sempurna.

Tapi yaa namanya anak ia pun memiliki jiwa, dia punya perasaan.




Mungkin maksudku baik hanya saja aku terlalu 'kasar' saat menerapkannya.
Semua info aku telan mentah. Hanya melihat dari satu sudut pandang.

Hingga pada akhirnya sesuatu kurang mengenakkan terjadi pada anakku.

Aku sangat menyesal dan merasa bersalah.
Aku enggak mengatakan bahwa suatu pilihan metode tertentu itu pasti buruk.
Sama sekali enggak.

Hanya, mari kita terapkan secara 'damai' agar anak pun menerimanya dengan damai.

Sampai pada akhirnya aku memiliki sebuah tekad dalam hati.

Sebuah tekad yang ternyata berkaitan dengan apa yang aku rasakan saat ini, terkait perlakuan orang tua.

Nah, seandainya pengalaman kurang menyenangkan tersebut tidak terjadi mungkin sampai detik ini aku tak memiliki tekad yang kuat untuk 'bersikap baik' pada anakku.

Nggak ada rasa sakit sesakit kehilangan sesuatu yang nggak bisa kita miliki lagi : waktu


Bentuk penyesalanku selanjutnya adalah tidak memanfaatkan masa muda dengan baik.

Saat masih remaja aku kelewat santai.
Sering bangun siang karena semalaman begadang.

Begadang ngapain coba? Dengar radio!

Unfaedah banget yaak?!

Karena hanya menyesal itu tak ada gunanya, jadi saat ini aku berusaha menebusnya dengan memanfaatkan sebaik mungkin waktu luang yang ada.

Melupakan segala alasan penghambat, maju terus nggak boleh mundur. Karena selesai memang lebih baik dari pada sempurna.

Anak tidur, anak lagi bersama simbahnya aku manfaatkan semaksimal yang aku bisa.
*emot tersenyum*


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Sunscreen untuk Kulit Berminyak : BIORE UV AQUA RICH Watery Essence spf 50+ PA++++

Menangkis Rasa Malu