Mengejar Kebahagiaan Diri Sendiri




30 Desember tahun lalu sempat menjadi hari ter-wah dan ter-greget buat saya.

Why? *kepo dong* 😆

Karena di sekitar jam delapan saya menemukan status teman yang dulu satu kerjaan. Dia mengungkapkan sedang merasa bosan di rumah lalu dengan naifnya bertanya kapan bekerja lagi.

Yang kedua, saat saya menemukan feed di Instagram, si teteh bilang dia suka iri kalau ada IRT yang bilang mau resign untuk momong sambil bekerja di rumah.

Iri karena merasa tidak mampu bekerja sambil momong anak. Walau di rumah ada kakek nenek, om tante tetep si anak ngelendotnya sama dia.

Dia tidak bisa bekerja dari rumah kecuali si anak dititipkan di daycare kaliyaa.

Nah, pas banget karena saya juga sedang mencari daycare agar bisa memaksimalkan pekerjaan saya.

Haduuuh duuuh duuuh gaya pisan. 


Betewe kalau kita menengok masa lalu pasti ingat betul pada perjuangan ortu agar anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Tanpa memandang apakah si anak laki-laki atau perempuan.

Lalu ketika sudah lulus sekolah, orangtua manapun pasti berbinar melihat anaknya berkarir.

Maaf, walau hanya bekerja sebagai karyawan pabrik setiap orangtua pasti akan bahagia apalagi kalau bekerja kantoran yang selalu rapih dan wangi ditambah memiliki jabatan.

Sebuah hasil manis buah perjuangan.

Tapi cerita mungkin akan berbeda ketika si anak perempuan sudah menikah.

Tidak semua suami mengijinkan istrinya melanjutkan karier. Bagi mereka selama rumah rapih dan anak terawat, sudah lebih dari cukup.

Karena yaa memang bekerja dan mengurus rumah tangga adalah dua hal yang sulit bahkan nyaris mustahil untuk dikerjakan bersamaan. 

Pasti ada salah satu yang dikorbankan. Kemudian banyak perempuan yang memilih berkorban.

Di sini kadang saya merasa menjadi perempuan kok banyak sekali ya pengorbanan yang harus dikeluarkan? Gubrak, wkwk..

Yang ingin saya bilang sebenarnya, menjadi IRT bukan berarti kita tidak bisa berkarya seperti sebelumnya. Kita tidak boleh menyesal atau takut untuk menjalani profesi itu.

Bagaimana menjadi IRT bahagia dan produktif versi saya adalah hanya tinggal bagaimana kita-nya bisa nggak memanfaatkan apa yang ada. 

Nggak usah muluk lah. Waktu luang pas anak kita tidur adalah salah satu yang sebenarnya sayang kalau tidak disikapi.

Saya merasa bersyukur ada di titik dimana ketika jam tidur anak sudah banyak berkurang dan sikap anak sudah semakin melelahkan yaitu saat dia menginjak usia dua tahun saya sudah mencicil sebagian perjuangan 'mengejar-kebahagiaan-diri-sendiri' saya.

Berjuang sendirian karena yang merasakan sumpeknya di rumah tapi hati sulit beranjak ya cuma saya. Tidak bersama suami, mertua maupun orang tua.  Merasa punya waktu mepet tapi pingin aktualisasi. Kerjaan rumah seabrek tapi pingin merasakan lagi dompet yang menebal. Jadi kalau pingin ini itu tinggal gesek karena debit menggendatz *amin* 😂

Bisa merasakan lagi era saat menjadi pekerja dimana rekening rutin terisi.

Belanja tanpa intervensi suami sepertinya niqmad sekali yaa rasanya.

HAHAHA.

Nah walau saya 'mengejar-kebahagiaan-diri-sendiri' karena melakukan hal yang bikin saya bahagia tapi saya nggak mau sih divonis kalau saya melupakan anak.

Kan saya ngejarnya sambil menyesuaikan dengan jadwal si anak.

Anak sekolah saya baru bekerja. Anak pulang sekolah saya bisa jemput.

Eh sekolah? Baru juga nyari daycare. 😅

A.S.A.P yess!😇



7 komentar

  1. semoga dilancarkan semua cita dan harapannya ya mba, aamiin :)

    BalasHapus
  2. Betul mba, menjadi IRT juga tetap bisa produktif kok. Apalagi di zaman internet, banyak peluang bisa diambil oleh ibu rumahtangga tanpa harus meninggalkan rumah.
    Salam kenal

    BalasHapus
  3. ya kita memang perlu membahagiakan diri sendiri ya denagn cara sederhana sekalipun

    BalasHapus
  4. Ada pepatah yang bilang "keceriaan sebuah rumah terletak pada wanita di rumah tersebut, jika wanita (istri/ibu) bahagia maka suasana rumah akan terlihat ceria".

    Mudah-mudahan mba Tami dipermudah jalannya untuk mengejar kebahagian yang mba inginkan. Aamiin

    BalasHapus
  5. setuju mba...kita sebagai IRT ataupun working mom sama2 berusaha memberikan yang terbaik untuk anak.
    setiap ibu mempunyai cara yang berbeda untuk kebahagiaannya... Tetap semangat mba :)

    BalasHapus
  6. Semangat mba Tami. Allah knows best. Semoga dilancarkan apa yang jadi harapannya. Salam kenal.

    BalasHapus
  7. I feel you mbak, ibu juga butuh aktivitas yang bisa tetap menjaga kewarasannya. hehe...
    saya juga melakukannya tanpa target yang kaku, disesuaikan dengan ritme aktivitas balita yang ada di rumah :).
    jadi ibu bahagia, anak juga terurus , salam ibu hebat......

    BalasHapus