Curhat di Medsos, Bolehkah?

Masih pakai alamat lama rupanya 😂



Hmm,

Ide untuk menulisnya muncul ketika aku membaca status teman di Whatsapp. Sekaligus karena kegiatan ini bersinggungan sekali denganku. Curhat di medsos bahkan nyaris menjadi kebiasaan. 😂😂😂

Namun berbeda dengan ketika remaja dulu dimana curcol di medsos lebih untuk hal-hal tak berfaedah.

Namanya juga remaja. Pernah ada di satu titik dimana, curhat yang lebih kepada ngumpulin like dan caper.

Pliz ya norak banget. Hahaha.

Era terobsesi pada hanya semata menginginkan like pun berubah : ingin menjadi orang yang bermanfaat.

Ohh kuterharu..

Jadi di setiap curcolanku, kuberharap ada pelajaran yang bisa dipetik.

Sebenarnya punya kebiasaan menulis cerpen dan kita kan diharuskan mencari 'amanah'.

Dalam menulis, dengan selalu mencantumkan benang merah bahwa Tuhan adil. Tapi ini lebih ke pengalaman rohani sih. Sengenes apapun, kalau kita melihatnya dari sisi positif Insya Alloh hasilnya pasti akan positif.

Dan belakangan, saya seneng banget berbagi soal pengalaman mengasuh anak.

Tentang mp-asi, tentang empat ilmu wajib konsumsi untuk kamu yang hamil anak pertama, tentang pandangan saya terhadap metode parenting, dan terakhir saya sedang menggodok pengalaman menyapih kemarin.

Tentang bagaimana sih cara menjadi ibu bahagia sekaligus produktif?

Tentang kiat mencapai resolusi yang IRT banget.

Yaa karena menjadi ibu terlebih full di rumah kan selalu dikepung pekerjaan. Kalau dulu ada kerjaan bisa dikerjakan entar-entar dengan alasan 'jam 8 aku harus berangkat' kelar urusan, tidak kali ini.

Btw, tahu tidak, dari aktivitas menulis saya pun dituntut untuk nggak malas cari ilmu. Yaa sebenar-benarnya pengalaman tetep yaa harus didukung oleh pandangan ilmiah. Hehehe..

Kita dituntut untuk berfikir terbuka. Nggak boleh kaku. Harus fleksibel. Dan pasti sih aplikatif. Ini yang susah. Kadang sudah merasa obyektif tapi jatuhnya malah subyektif.

Padahal sadar anak adalah sesuatu yang tidak bisa dipukul rata. Anak si A begini belum tentu dengan anak si D. Karena ada baaaaaanyak faktor yang main.

Harapannya sih, jangan sampai curcolan kita justru memicu kericuhan, saling melempar piring.

Karena menjadi ibu nggak ada sekolah resmi yang berpola kayak kalau kita mau jadi dokter jadi menurut saya sih berbagi pengalaman itu baik.

Jadi balik lagi ke judul.

Curhat di medsos itu boleh nggak?

Boleh kalau saya. Selama hal ini ngasih manfaat ke orang lain, kenapa nggak?
Seperti Andra Alodita yang membagi pengalaman menjalani IVF. Atau Annisa Steviani yang bisa menyeimbangkan porsi antara menjadi ibu dan menjadi wanita pekerja.

Dari mana saya tahu kisah mereka ?

Sosmed.

Btw, kalau pingin ngomongin perasaan sih kalau boleh saran mending dalam taraf wajar.

Iya lagi cinta, natural aja jangan lebay yang setiap menit di-post, yang seolah nggak bisa hidup tanpa dia.

Alasannya, karena Yang Kuasa itu Maha, Maha Membolak-balikkan Perasaan.

Kalau besok nggak sampai pelaminan gimana dong?

Yak selamat curcol!

Tidak ada komentar