Cara Sederhana Saya Lepas dari Jerat Middle Income Trap Bareng Jenius

Gambar
Setelah menjadi ibu dan memutuskan untuk nggak bekerja saya mengalami banyak perubahan. Bukan tentang rasa bosan dengan ruang lingkup IRT yang amat terbatas. Toh, hal tersebut sudah berhasil saya hempas. Hihihi..

Yuk baca curhatan saya di sini.
Yaitu sebuah masalah klasik yang menjangkit sebagian besar pasangan muda sekaligus baru pertama punya anak. Ketika sumber pendapatan berkurang namun kebutuhan hidup justru semakin banyak. Tapi, ketika sumur baru berhasil dibuat, ehh kenapa tetep nggak punya tabungan ya?

Yeay, Akhirnya Saya Sadar!
Dengan mepetnya finansial setelah resign, saya akhirnya sadar bahwa keuangan saya selama ini memang nggak sehat. Beberapa hal yang membuat saya akhirnya sadar adalah :

1. Saya nggak punya tabungan. Yes, sepanjang saya bekerja saya nggak punya saldo di rekening dengan nominal yang berarti.

2. Ketika butuh sesuatu yang bersifat darurat saya nggak punya dana cadangan.

3. Saya memimpikan sesuatu tetapi saya nggak sanggup beli padahal harganya masih rasiona…

Pengalaman Terseram




Ini bukan soal mistis.

Tetiba pingin ngomongin yang rada serem ihh. Haha. Bukan, bukan ngomongin v-klip barunya Taylor Swift yang serem di opening ituhh tapi ini mau ngomongin hal paling horor yang pernah saya alami.

Hal serem tapi bikin sedih. Lho?

Saya yang aslinya nggak ngebet nikah terpaksa mengiyakan saat kala itu pacar mengutarakan maksud untuk serius.

Terpaksa.. Yang memaksa adalah cinta 💕💕💕

Tak bisa dipungkiri kalau ada haru di hati ini. Biasanya pihak perempuan yang mendesak. Kali ini tidak.

Juga haru karena seolah semua pertanyaan saya dijawab persis oleh Tuhan.

Terakhir, adalah rasa sangat bahagia. Yang barusan dilamar pasti ngerti banget gimana rasanya.. 😘

Hubungan yang mengharu biru.

Bahkan kita pernah jauh. Jauh yaa jaraknya. Jauh yaa komunikasi kita.

Saya ingat tepat di ultah saya dia add balik fb saya yang sempat diblokir.

Saya termasuk workaholic. Saat sudah menikah saya juga sempat berfikir seandainya hamil dan punya anak.

Apa saya siap meninggalkan pekerjaan yang saya dapat dengan tidak mudah ini?

Inget banget hari pertama menginjakkan kaki di tempat asing dan tidak ada satu pun yang saya kenal. Kebetulan juga dapat senior yang sebel sama saya entah karena alasan apa.

Senior galak dan tempat asing yang jauh dari rumah plus makin ke sana performa di tempat kerja yang gitu-gitu doang.

Serasa dapat paket komplit ditambah saya dengan karakter pendiam yang suka nggak pede kalau disuruh cuap-cuap menyapa duluan.

It was sebelum aku menjadi ibu. Kalau sekarang sih kayaknya sudah ada progres.. 😁

Pengalaman ini pernah saya tulis di Sisi Lain Anak.

Toh mendung ga selalu mendung dan pelangi pun akhirnya menyembul.

Indaaah..

Dan di sinilah sekaligus sebagai bukti kalau saya lebih sayang anak ketimbang karier.

Saya memilih resign ketika tugas saya tinggal main perintah. *SokBossy 😋

Tapi hidup tidak boleh berakhir di satu titik, bersyukur bapernya nggak kelamaan. Alasannya yaa demi anak, karena saya punya anak yang dalam setiap doa saya berharap dia bisa memiliki hidup yang lebih baik dari saya.

Move on tancap gas menyongsong rencana indah berikutnya hehee.

(((menyongsong))) gituloh!

Kalau kalian apa yang pernah menghentikan langkah tapi kemudian semangat lagi? Apa itu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Sunscreen untuk Kulit Berminyak : BIORE UV AQUA RICH Watery Essence spf 50+ PA++++

Cara Menghilangkan Jerawat dengan Langkah Sederhana yang Terbukti Ampuh